Sayangku, dua belas tahun lalu aku berdiri di hadapanmu dengan tangan gemetar. Hari ini tanganku masih gemetar, tetapi kini karena syukur yang tak habis-habisnya. Kamu sabar membimbing laki-laki yang masih belajar menahan emosi dan melembutkan nada bicaranya ini, agar menjadi suami dan ayah yang lebih baik. Dan kamu mengubah sebuah rumah menjadi tempat paling menenangkan di dunia.
Karena hari-hariku hampir selalu kuhabiskan di rumah, aku menyaksikan semua yang kamu lakukan untuk kami. Dari sarapan sampai makan malam, kamu yang menyiapkan. Aku mengingat tawamu pada leluconku yang tidak lucu, teh hangat yang kamu antar tanpa diminta, dan caramu marah sebentar lalu tetap menyiapkan makanku dengan penuh kasih. Di situlah aku mengerti bahwa cinta bukan kembang api yang meriah, melainkan hidangan yang disiapkan setiap hari, dan doa yang dibisikkan saat aku sudah terlelap.
Kamu tahu aku tidak sempurna. Nadaku kadang meninggi, tanganku kadang kurang sigap, dan romantisku sering lupa datang. Namun kamu tetap menerimaku dengan hati seluas langit. Karena itu hadiahku tahun ini bukan barang mewah, melainkan janji: aku ingin menjadi suami yang lebih lembut, lebih hadir, dan lebih pantas untuk kamu cintai.
Terima kasih telah memilihku setiap hari selama 4.383 hari. Jika Allah izinkan dua belas tahun lagi, bahkan seumur hidup, aku ingin menghabiskannya di sisimu. Menggenggam tanganmu di dunia, dan semoga kelak di surga.
Selamat ulang tahun pernikahan yang ke-12, cintaku. Aku mencintaimu karena Allah, dan karena kamu.